Konspirasi Alam Semesta Hari Itu…Part 3!

I am back! Hehe.

Oh iya, bagi yang baru pertama mengunjungi blog saya, silahkan baca part 1 dan part 2 dulu agar ceritanya runut yaa..

Sebenarnya saya udah planning mau publish part 3 ini beberapa hari setelah part 2, tapi apa mau dikata, selama hampir tiga minggu belakangan saya disibukkan dengan satu dan lain hal yang membuat part yang ketiga ini baru bisa dipublikasikan hari ini. Maaf yaaa… *membungkuk dalam-dalam. Jadi, sampai di mana kita? Oh iya, di kereta menuju Birmingham. Then to Birmingham we go!!

Di perjalanan menuju Birmingham yang memakan waktu sekitar hampir 3 jam kami awalnya berniat tidur untuk menabung tenaga. Sayangnya impian kami pupus dengan indahnya karena kereta yang kami tumpangi rupa-rupanya super ramai malam itu. Bepergian dengan kereta terakhir apalagi pada malam minggu memang sebaiknya tidak dilakukan mengingat kereta akan dipenuhi dengan penumpang yang baru pulang (atau baru akan berangkat?) dugem di kota lain. Bukan hanya penuh, tiap gerbong literally sesak! Lorong antara kursi pun dipenuhi dengan penumpang yang berdiri karena tidak kebagian kursi. Di gerbong kami terdapat beberapa rombongan dugem seingat saya. Yang bergerombol di bagian depan kami adalah rombongan mbak mas yang perkiraan saya berusia sekitar 30 akhir 40 awal. Sedangkan rombongan yang di belakang gerbong adalah geng mbak-mbak umur 20an yang ributnya minta ampun. Mulai dari teriak-teriakan, nyanyi-nyanyi bareng, sampe bangunin temannya yang kayanya udah mabok berat. Semuanya dengan volume maksimal. Si mbak yang mabok ini, Emily namanya, kayanya udah bener-bener ngga ketolong lagi maboknya, akhirnya dipapah sama teman-temannya saat turun dari kereta di Sheffield. Setelah beberapa station akhirnya gerbong kami cukup lowong. Saya kemudian melihat beberapa petugas mondar-mandir dari depan ke belakang membawa kertas koran. Karena saya pikir sebentar lagi tiket akan diperiksa, sayapun mengeluarkan tiket saya dari kantong. Tapi eh ternyata petugas yang mondar mandir tadi bukannya mau periksa tiket, tapi mau nutupin muntah di lantai belakang gerbong pakai koran. Ewww! Sampai di New Street Station Birmingham tidak ada satupun petugas yang memeriksa tiket kami. Saya awalnya sempat mikir kenapa tadi kami bela-belain beli tiket mahal-mahal kalo ujung-ujungnya tidak diperiksa hehe. Tapi saya cepat-cepat sadar kalo tiket itu tidak semata untuk keperluan pemeriksaan dan agar tidak didenda petugas, tapi adalah penanda bahwa kita memang berhak untuk menggunakan jasa transportasi secara sah. Jadi, jangan sampe tidak beli tiket ya adik-adik hahaha.

Sudah hampir tengah malam saat kami tiba di Birmingham. Tugas kami berikutnya adalah mencari bus station. Walaupun sudah beberapa kali ke Birmingham, tidak ada dari kami yang tahu di mana letak bus station tersebut karena kami tidak pernah menggunakan bus National Express. Sedangkan Megabus, provider bus yang sering kami gunakan mengambil dan menurunkan penumpang tak jauh dari train station. Berbekal google map kami bertiga berjalan ke bus station. Kami berjalan dengan riang (literally riang XD) karena dengan naifnya berasumsi bahwa inilah akhir dari drama perjalan kami tanpa menyadari bahwa drama kami masih panjang hahaha. Kami akhirnya tiba di bus station dengan sisa waktu sekitar 1 jam hingga bus kami dijadwalkan untuk berangkat. Karena sudah berpengalaman ketinggalan bus *hiks!* kami mengecek berkali-kali jadwal bus kami di papan informasi keberangkatan. Ternyata, bus kami akan ke Stansted melalui Heathrow, di mana kami harus turun dan menunggu bus yang lain sekitar sejam di sana. Kami sempat beberapa kali bertanya kepada petugas untuk memastikan dan mereka mengonfirmasi hal tersebut. Bus datang, kami pun berangkat ke Heathrow.

Perjalanan ke Heathrow yang lancar jaya makin menguatkan feeling kami bahwa semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana. Ketinggalan bus, lari-lari ke platform, dan naik kereta bareng Emily dkk sudah cukup menarik untuk nantinya diceritakan sebagai “pengalaman seru saat liburan”. Kami tiba di Heathrow Bus Station di terminal 2 pada pukul 4 subuh. Bus yang akan kami tumpangi menuju ke Stansted dijadwalkan pukul 5 pagi dengan perjalanan sekitar 1 jam maka kami akan tiba pukul 6 pagi di Stansted. Jika semuanya berjalan lancar, kami masih punya 1 jam sebelum pesawat kami akan berangkat pukul 7.20 pagi. Karena udara di runag tunggu bus station terlalu dingin dan hampir semua bangku telah berpenghuni, kami memilih menunggu di lantai bawah yang merupakan jalur penghubung antara terminal 2 dan 3.  Sampai saat itu kami masih sangat optimis semua akan berjalan lancar. Kami sempat tertawa-tawa karena Galuh bawa bekal tomat dari rumah dan ide tentang makan tomat subuh-subuh di Heathrow entah kenapa terasa lucu sekali. Sebelum pukul 5 kami kembali ke lantai atas dan ternyata bus kami sudah datang. Terlalu bersemangat, kami mengantri paling depan naik ke bus. Ransel-ransel besar kami sengaja tidak dimasukkan ke bagasi agar nantinya saat tiba di Stansted bisa langsung lari ke pintu counter Ryan Air untuk meminta stempel di tiket kami. Setelah semua penumpang naik dan bagasi ditutup, si bapak sopir pun menyalakan bus nya. Beberapa menit sebelum pukul 5.

Tiba-tiba si bapak supir terlihat beberapa kali mengecek tuas yang mengatur lampu sein bus. Ia lalu turun lalu naik lagi, begitu hingga beberapa kali. Kami sudah mulai curiga ada yang tidak beres. Saya melihat ia sempat kali berbicara dengan petugas station dan mulai menelepon. Waduh, apa lagi ini. Setelah berbicara di telepon si abang supir berdiri di depan kami dan mengumumkan permohonan maaf karena keberangkatan kami akan sedikit tertunda karena lampu indikator busnya rusak. Ntaps. Tepat di saat kami sudah yakin semuanya berjalan lancar, eh, giliran lampu bus yang mogok nyala. Rasanya kayak lagi lomba lari tapi garis finishnya ikutan lari. Saya, Galuh, dan Puti langsung liat-liatan dengan wajah pucat. Pilihannya adalah menunggu bus diperbaiki atau, mau tidak mau, memesan uber dan naik uber dari Heathrow ke Stansted. Puti berinisiatif untuk mengecek tarif uber daaaaaaan…. hanya 114 pon alias 2 juta rupiah saja sodara-sodara! Mempertimbangkan tarif yang bukan cuma mahal tapi MAHAL BANGET kami memilih untuk menunggu sebentar lagi. Saya sempat bertanya ke supir bus kira-kira kapan teknisinya akan datang karena kami mengejar penerbangan kami di Stansted. Ia kemudian bertanya: “what time is your flight?” “7.20 this morning,” jawab saya. Saat itu jamm sudah menunjukkan sekitar pukul 5.15 pagi. “Your flight is at 7.20 yet you take this bus? You already missed your plane!” Kata si bapak supir lagi. Di titik itu saya yang sudah bete maksimal, karena kurang istirahat karena harus muter otak biar bisa tiba di London tepat waktu, rasanya mau teriak: YA SAYA JUGA GA RENCANA NAIK BUS INI, PAK. BUS SAYA HARUSNYA TADI MALAM! Tapi alih-alih mengikuti keinginan impulsif buat marah-marah, sebagai perempuan berpendidikan dan berkelas *halah*, saya hanya menjawab: well, we wont be late if this bus works properly. Si pak supir yang keliatannya agak kasian sama 3 gadis Asia berwajah pucat dan penuh kecemasan akhirnya ngomong baik-baik kalau teknisinya sudah ke sini dan akan tiba dalam waktu dekat tapi kalau mau lebih cepat sebaiknya kami menggunakan taksi. “But it’s gonna be pricey,” katanya. Well, you dont say, Pak!

Kami yang makin panik akhirnya memutuskan untuk memesan uber. Kami turun dari bus tepat saat teknisi datang. Kami lalu bertanya ke petugas station bagaimana cara ke terminal 3 karena uber hanya bisa menjemput kami di parkiran terminal 3. Si petugas bertanya kenapa kami terburu-buru dan kami menjelaskan harus mengejaar penerbangan kami pukul 7.20. Ia lalu memberi saran untuk tetap naik bus karena teknisinya sudah datang dan kami masih ada waktu. Jalanan tidak akan terlalu macet di karena masih subuh dan perjalanan hanya akan memakan waktu sejam yada yada yada.. Kami, yang mungkin masih enggan merelakan 114 pon yang berharga akhirnya kembali naik ke bus bersamaan dengan sengan selesainya si teknisi memperbaiki lampu. Kami naik, supir bus menyalakan mesin, kemudian mecoba menyalakan lampu indikator. This is it, we’re gonna make it. Everything is gonna be OK. Tapi sayang, pagi itu kami diberi kesempatan untuk merasakan secara nyata makna dari adagium “manusia berencana tapi Tuhan lah yang menentukan”. Lampu indikatornya tetap tidak berfungsi, bapak ibuk sekaliaaaan.. huhuhu. Si bapak supir yang kelihatan merasa bersalah kemudian menoleh ke arah kami sambil berkata “sorry girls…” Bagi kami bertiga itu adalah aba-aba. Saya, Galuh, dan Puti tanpa ba bi bu langsung pasang ransel dan ngibrit ke terminal 3 sambil kembali mengorder uber.  

Kami tiba lebih dulu di parkiran terminal 3. Saat itu sudah hampir pukul 6 pagi. Tak lama kemudian uber kami datang dan kami langsung meluncur ke stansted. Jika tidak ada halangan (lagi) kami bisa tiba pukul 7, yang berarti kami hanya punya waktu 20 menit untuk menstempel boarding pass di counter Ryan Air, menuju ke pintu keberangkatan, melewati pemeriksaan x-ray, dan kembali berlari ke gate kami. Kami tetap berusaha untuk optimis tidak ketinggalan pesawat karena toh Stansted adalah bandara yang relatif kecil. Saya duduk di depan sedangkan Puti dan Galuh di belakang. Tas-tas kami pangku untuk menghemat waktu karena lagi-lagi kami berencana untuk langsung lari mencari counter Ryan Air saat tiba nanti. Mobil mulai berjalan dan si om supir uber bekata akan mengusahakan kami tiba secepatnya. Tak lama kemudian Puti dan Galuh tertidur di bangku belakang sementara saya, yang memang susah sekali untuk tidur di saat-saat genting hanya bisa mengamati pemandangan di sepanjang jalan yang diisi dengan pohon-pohon kurus kering gundul. Karena mengamati jalan itulah saya kemudian menyadari bahwa si om uber sepertinya bingung harus lewat jalan yang mana karena kami terus menerus melewati jalan yang sama. Ia kemudian menelepon temannya dalam bahasa India sambil beberapa kali menyebutkan kata Stansted. Fix lah nyasar ini, pikir saya. Tapi tak lama ia akhirnya menutup telepon dan mengeset ulang GPSnya dan mengatakan ia sudah tahu harus lewat mana. Yaudah lah mau bagaimana lagi. Saya hanya bisa berdoa sepanjang jalan agar tidak ada kecelakan di highway atau flight kami delay. Rasa-rasanya baru kali itu saya berdoa khusyuk minta agar flight saya ditunda hahaha.

Kami tiba di stansted sudah pukul 7.08 setelah drama om uber yang tidak tahu di mana letak bangunan terminal. Elah, om! Begitu mobil berhenti kami bertiga langsung sprint ke bangunan terminal dengan tiket dan paspor di tangan. Untungnya counter Ryan Air tidak begitu jauh dari pintu masuk. Kami langsung menghampiri si petugas berseragam maskapai tersebut yang kemudian mengarahkan kami ke rekannya. ”

What time is your flight?” “7.20” 

“7.20” *sambil ngos-ngosan*

*lirik jam tangan* “You are not gonna make it.” 

-bengong-

Please, just stamp our paper and we are gonna run to the gate.”

No, you will not gonna make it to the gate. You guys are already late.”

Kemudian kata Puti: “But probably the flight will be delayed.”

Ryan Air is never delayed.”

Kami bertiga langsung speechless mendengar kata-kata si mas counter. Kami shock sampai tidak bisa berargumen lagi. Because, lemme tell you this, kids: THAT IS TOTALLY BULLSH*T!! 

Masih dengan penuh kekecewaan karena mengalami ketinggalan kendaraan untuk kedua kalinya, kami iya-iya saja saat diarahkan menuju ke counter tiket untuk membeli tiket baru. Antrian sudah mengular di depan counter saat kami ikut bergabung di barisan. Kami berniat untuk membeli tiket flight selanjutnya ke Malaga dengan harapan semoga tiketnya tidak terlalu mahal. Kami juga memikirkan untuk mengambil rute yang lain seperti naik kereta ke Paris kemudian terbang ke Malaga. Walaupun dengan skenario alternatif tersebut tetap saja dompet kami akan terkuras karena harus membeli tiket last minute. Kemudian, sementara kami mengantri, Galuh mengutarakan kekhawatirannya yang saya yakin juga sempat terpikir oleh saya ataupun Puti:

“Jangan-jangan ada sesuatu, ya, makanya dari kemarin rencana kita gagal-gagal melulu.”

Hmmm…apakah memang ada sesuatu sampai seolah-olah semesta berkonspirasi untuk menghalangi liburan kami bertiga? Apakah kami akan berhasil menjelajahi jejak peradaban Islam di Andalusia?

Jawabannya ada di part berikutnya!

Sabar, yha!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s