Konspirasi Alam Semesta Hari Itu…

Sejatinya tulisan ini dimaksudkan untuk dituliskan kemarin tanggal 19 Maret, setahun pas terjadinya peristiwa ini. Tapi kemarin, di hari Minggu yang disertai hujan, saya sedang semangat-semangatnya membaca Kafka on The Shore yang saya beli dua tahun lalu dan belum sempat terbaca hingga kemarin. Jadi, begitulah cerita ini kehilangan momentum sebagai perayaan satu tahun terjadinya deretan-deretan ketidakberuntungan saya dan dua orang teman saya sebagai traveler dadakan. Tapi sudahlah, pada dasarnya saya memang sudah lama ingin menulis peristiwa ini jadi tanggal 20, 21, atau berapapun tak jadi soal.

Cerita ini bermula di tanggal 19 Maret 2016, saat saya dan kedua teman rumah saya, Puti dan Galuh, sedang bersiap-siap untuk memulai perjalanan sepuluh hari kami menyusuri Spanyol dan Perancis selatan. Sejak jauh-jauh hari kami telah merencanakan untuk menggunakan libur paskah yang sebulan penuh tanpa tugas kuliah untuk liburan. Dimulai dengan memutuskan negara mana dan kota apa saja yang akan kami kunjungi, penginapan-penginapan yang dipesan dengan hati-hati, biaya-biaya yang harus dikeluarkan, hingga transportasi antar kota dan dalam kota yang telah dipelajari lengkap dengan peta dan informasi biayanya. Tiket pesawat pun telah dibeli beberapa bulan sebelumnya dan sehari sebelumnya kami telah melakukan check-in online. Kami bahkan membuat itinerary harian lengkap dengan durasi kunjungan di tiap objek wisata di tiap kota. Pada dasarnya, karena ini merupakan pengalaman pertama kami travelling bertiga, kami berusaha memastikan segala hal ya ng berkaitan dengan perjalanan kami 10 hari ke depan telah terencana dengan baik. Beberapa orang mungkin mendapati hal ini kurang asyik, kurang berjiwa traveler (apapun maksudnya itu), dan membosankan. Tapi bagi kami yang saat itu bepergian dengan budget terbatas, cara ini memungkinkan kami untuk mengunjungi banyak tempat dengan pengeluaran yang tidak terlalu membengkak.

Kembali ke 19 Maret, pada hari itu kebetulan PPI Leeds sedang mengadakan Conference di mana kami bertiga terlibat dalam kegiatan itu. Rencana kami, setelah kegiatan selesai pukul 5 sore, kami akan bergegas pulang dan bersiap-siap berangkat ke bus station karena penerbangan kami dijadwalkan besok pagi pukul 7.20 pagi via Stansted di utara London. Karena jarak Leeds-London cukup jauh, kami sengaja mengambil bus overnight dari Leeds dengan rute Leeds-London Victoria-Stansted Airport. Sore itu, karena bawaan kami telah dipack semalam sebelumnya, jadi kami cukup santai. Mandi, makan, shalat, bahkan masih sempat ketawa ketiwi di dapur. Sebelum pukul 7 kami sepakat memesan uber karena jarak flat ke bus station biasanya tidak lebih dari 10 menit jika menggunakan mobil. Kalaupun jalanan macet (walaupun kemungkinannya kecil) kami masih aman karena masih ada cukup waktu hingga jam keberangkatan bus kami jam 7.20.

Pukul 7.08 kami tiba di bus station. Saya ingat sekali karena saya masih sempat mengecek jam. Merasa masih banyak waktu kami jalan santai ke ruang tunggu National Express sambil bersenda gurau. Iya, bersenda gurau. Tanpa sedikitpun curiga bahwa itulah permulaan The Series of Unfortunate Events a la kami dua hari ke depan. Kami kemudian mengecek papan informasi keberangkatan. Aneh, tidak ada bus ke London pukul 7.20. Kami lalu bertanya ke petugas di counter, daaaaaan….kata pak petugas tidak ada bus ke London pukul 7.20, yang ada pukul 7.00 dan baru berangkat beberapa menit yang lalu. Kami, yang masih kekeuh dengan jadwal versi kami kemudian mengecek booking confirmation yang telah diprint dan bener dong jamnya 7.00. Si pak petugas yang setengah nyebelin setengah ngeselin keliatannya juga setengah kasian setengah gemes sama kami bertiga. Katanya: you know that you live in a punctual country, how could you showed up late? Iya deh iya deh…

Sampai sini kami masih belum panik. Belum panik-panik amat lebih tepatnya. Karena masih ada rangkaian kepanikan-kepanikan yang lebih besar setelah ini hehe. Kalau ngga ada hal konyol kayak gini, nanti ngga ada yang bisa diceritain, begitulah prinsip menghibur diri kami waktu itu. Kami lalu memutuskan membeli tiket bus selanjutnya. Tapi setelah dicek ternyata seluruh tiketnya sudah habis terjual. Oke, saatnya pindah ke provider bus berikutnya: Megabus. daaaaan….tidak ada Megabus yang ke London malam itu. Di situ kami sudah mulai liat-liatan dengan rasa tak percaya *halah*. Ini aneh. Setahu kami Megabus dari Leeds ke London cukup rutin dan beroprasi hampir setiap hari, yah mungkin kecuali hari itu. Kami berusaha menjadikan kereta sebagai opsi terakhir, karena harga tiket kereta last minute lumayan menguras kantong (sekitar £60an saat itu). Kami mencoba mencari rute kombinasi, misalnya Leeds-Birmingham kemudian Birmingham-London, namun juga tak ketemu jadwal yang pas karena kami harus berada di London sebelum pukul 4 subuh agar bisa mengejar bus London-Stansted kami. Setelah tak kunjung mendapatkan jadwal dan rute bus yang pas kami memutuskan untuk naik kereta. Nggak papa lah bayar kereta harga last minute yang penting bisa sampai di London tepat waktu. Kami pun beranjak ke train station. Kali ini cukup naik bus karena toh kereta ke London masih sekitar satu jam lagi. Di bus pun kami masih smepat ngobrol dengan supir bus sambil curhat-curhat dikit kalau kami ketinggalan bus. “Happy holiday!” kata supir bus setelah kami turun di train station sambil cengar cengir dan masih dengan optimis beranggapan dengan naik kereta semua akan lancar. Oh iya, di sepanjang jalan kami mencoba membeli kereta secara online tapi terus menerus gagal. Lagi-lagi masih dengan pikiran positif kami memutuskan untuk membeli tiket di stasiun saja.

Tiba di train station kami langsung menuju mesin penjualan karcis. Anehnya, lagi, tiket Leeds-London yang tertera di layar tidak menunjukkan waktu keberangkatan tapi hanya tertulis all day off peak hour atau semacam itulah. Karena ragu kami memutuskan membeli langsung di counter agar bisa menanyai petugas tentang jadwal kereta. Setelah mengantri, tibalah giliran kami. Kemudian, tersibaklah segala teka-teki keanehan dalam pembelian tiket yang kami alami sejak tadi *biar dramatis*. Kata mbak petugas: I am sorry but all train to London has been terminated tonight due to some works in the rail. Emm…gimana kak? Saya coba mencerna kata-kata si mbak petugas dengan setengah berharap saya salah dengar akibat rendahnya kemampuan saya menangkap aksen Yorkshire. Tapi mesinnya masih menjual tiket kereta Leeds-London, kata saya. Iya, walaupun kamu beli tiket tapi malam ini tidak ada kereta ke London, kata si petugas. Emm.. iya juga sih. Sampai di situ level panik kami sudah jauh di atas saat  kami oertama ketinggalan bus. Kami lalu menepii sambil mengatur strategi akan naik apa ke London.

Naik apaaa??

I’ll let you know in the next post 😀

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Akhirnya Kak Kyo menulis lagi.. Mantap jiwa yha.
    BTW temanya sama dengan: https://cenayangfilm.wordpress.com/ ^^

    Like

    1. dillatanca says:

      akhirnya yha.. the power of pengangguran hahahah.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s