Konspirasi Alam Semesta Hari Itu…part 2!

Hola! Jumpa lagi 🙂

Jadi. sebelum melanjutkan cerita yang sempat terpotong kemarin (dua hari lalu sih tepatnya) saya sempat membaca ulang part 1, Konspirasi Alam Semesta Hari Itu…, beberapa kali dan berkesimpulan kalau bahasa saya super kaku hehe. Maklumlah jarang ngeblog lagi apalagi setahun belakangan nulisnya yang ilmiah-ilmiah *alesan. Mohon dimaafkan! *salim.

Oke, kembali ke cerita.

Setelah mimpi naik kereta ke London terpatahkan dengan kejam karena adanya perbaikan jalur, kami bertiga kembali memutar otak. Saat itu seingat saya sudah pukul 8 atau 8.30, sementara waktu tempuh Leeds-London sekitar 4-5 jam dengan bus tergantung kota yang disinggahi dan lama perhentian sedangkan jika menggunakan kereta bisa memakan waktu 3-4 jam. Dengan hilangnya dua opsi tersebut, berarti kami harus menemukan moda transportasi yang bisa membawa kami ke London sebelum bus kami dari Victoria Bus Station berangkat ke Stansted Airport pukul 4 subuh. Walaupun masih ada waktu, kami tetap berusaha mencari cara untuk bisa ke Lodon secepat mungkin. Kami kembali mencoba mencari jadwal kereta ke London dengan menyambung kereta di kota lain. Masih belum ada jadwal yang pas. Kami bahkan mencoba mencari jadwal kereta melalui Sheffield, Nottingham, Birmingham, tapi juga tak ada kereta yang tiba di London sebelum pukul 4 subuh. Kami mencari opsi transportasi lain dan Galuh memberi ide untuk mencoba blablacar. Blablacar merupakan media online yang memfasilitasi pertemuan antara pelancong yang mau menumpang dengan pemberi tumpangan. Mirip-mirip hitchiking tapi dengan keamanan yang lebih terjamin karena kita bisa membaca review dan rating pengemudi serta berapa biaya yang harus kita bayarkan. Selain itu, pengemudi bisa menolak atau menerima request kita untuk nebeng, jadi seleksi dilakukan oleh kedua belah pihak. Walaupun kami memang merencanakan akan menggunakan blablacar untuk perjalanan kami dari Malaga ke Granada nanti, tapi jika kami berhasil menggunakan blablacar ke London berarti ini akan menjadi pengalaman pertama kami. Awalnya kami sempat ragu karena bayangan akan semobil dengan orang asing dari Leeds ke London cukup bikin nyali ciut juga. Kalo ternyata dia pembunuh berantai atau sindikat perdagangan perempuan kan ngeri juga. Tapi karena kami tidak melihat ada opsi lain saat itu, akhirnya kami mencari tebengan juga di blablacar.

Galuh kemudian bertugas mencari tumpangan di blablacar sementara saya dan Puti tetap berkutat dengan kereta dan bus. Saya menemukan kereta ke Birmingham pukul 9.15 tapi tidak ada bus atau kereta dari Birmingham ke London yang tiba sebelum jam 4 subuh. Akhirnya Galuh menemukan tumpangan blablacar yang juga menuju London tapi berangkat dari Huddersfield, sebuah kota kecil di berat daya Leeds. Walaupun belum tau ke Huddersfield harus naik apa jam segitu, kami tetap me-request tumpangan ke driver dengan catatan apakah kami boleh dijemput di Leeds dengan tambahan biaya. Sayangnya si driver tidak selincah sis sis olshop dalam membalas request, jadi kami kembali harus menunggu dalam ketidakpastian *eh. Karena merasa insecure, kami kembali memutar otak mencari opsi lain sambil tetap nongkrong di dekat loket tepat di bawah jam besar yang senantiasa kamii lirik dengan cemas. Pilihan berikutnya: rental mobil. Plis jangan diketawain ini serius. Sampai saat ini saya juga masih amazed plus tidak habis pikir dengan keputusasaan dan kenekatan kami saat itu. Yang menjadi peer, batas usia untuk bisa menyewa mobil di Inggris adalah 25 tahun, di bawah itu harus membayar biaya tambahan macem you g driver surcharge gitu lah pokoknya. Nah masalahnya, Galuh yang menawarkan diri untuk menyetir masih berumur 24 tahun dan SIM nya ditinggal di rumah, Puti yang baru saja berumur 25 ragu untuk menyetir ke London, dan saya yang juga sudah berumur 25 malah membawa SIM yang sudah expired. Kami mencoba mengatur strategi: kami akan menyewa mobil menggunakan SIM Puti, kemudian kami akan kembali ke flat mengambil SIM Galuh dan Galuh akan menyetir sampai ke London. Oke. Saya kemudian mengambil tugas menghubungi penyewaan mobil Enterprise, Galuh tetap menunggu konfirmasi blablacar, dan Puti mencari kombinasi kereta dan bus ke London. Sialnya (atau mungkin untungnya) telepon saya ke Enterprise diterima oleh mesin penjawab karena mungkin sudah bukan jam kantor.Ngobrol dengan mesin penjawab ini sumpah bikin saya senewen. Ini seperti mendengar Telkomsel Veronica yang hits jaman dahulu itu tapi dangan aksen British dan Mbak Veronica yang hobi nyuruh-nyuruh penelepon untuk menyebutkan kata-kata tertentu (iya, kata-kata, bukan tekan angka, huhuhu). Akhirnya saya berhasil melewati mesin penerima telepon dan telepon saya disambungkan ke bagian penyewaan daaaaan… tidak ada yang mengangkat.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 dan semua moda transportasi yang kami usahakan belum ada yang berbuah hasil. Kalau dipikir-pikir lagi, ini semua bisa terjadi karena ketinggalan bus dengan alasan sepele: salah ingat waktu keberangkatan. Sial sekali. Tiba-tiba, sebelum pukul 9 Puti menemukan ada bus yang berangkat dari Birmingham sekitar pukul 2 pagi dan tiba di Stansted Airport pukul 6 pagi. Kami baru sadar sedari tadi kami sibuk mencari bus ke London dan sama sekali tidak terpikir untuk mencari bus tujuan Stansted langsung. Saya langsung mengingat kereta terakhir tujuan Birmingham yang tadi sempat saya temukan. Tapi kami hanya memiliki waktu kurang lebih 15 menit untuk membeli tiket dan cabut ke peron karena kereta akan berangkat pukul 9.15. Alhasil, kami kembali membagi tugas agar bisa lebih cepat. Saya bertugas membeli tiket kereta untuk kami bertiga sementara Galuh dan Puti membeli tiket bus secara online. Saya pun langsung lari ke loket dan ikut antri dengan harap-harap cemas karena di depan saya masih ada beberapa orang. Sambil mengantri saya menunggu konirmasi dari Galuh dan Puti apakah tiket bus sudah berhasil dibeli atau belum. Mereka lalu memberi isyarat kalau tiket berasil dibeli, tapi saya masih di barisan ke sekian dan loket tiket hanya terbuka 1. Tidak ada jalan lain, saya lalu mohon-mohon ke orang-orang di depan saya agar dibolehkan membeli tiket duluan dengan alasan harus mengejar pesawat di London. Alhamdulillah mereka tidak masalah dan saya didahulukan. Pada petugas loket saya langsung memberitahu tiket yang mau saya beli tanpa peduli harganya (sekitar 30an pounds per orang *ouch!). Si mas petugas loket yang mungkin iba melihat saya yang sudah awut-awutan dengan baiknya membuat kombinasi tiket seolah-olah kami membeli tiket dengan rute terputus Leeds-Sheffield-satu kota lagi yang saya lupa karena menurut dia lebih murah dibanding membeli tiket langsung Leeds-Birmingham. Sayangnya hanya satu tiket yang bisa mendapatkan potongan harga karena hanya saya yang membawa Railcard. Ya sudahlah, itu juga udah syukur bisa murah dikit. Setelah tiket di tangan, kami hanya punya waktu sekitar 5 menit untuk ke peron tepat waktu. Dengan didorong pengalaman pahitnya ketinggalan bus hehe kami pun lari sekencang-kencangnya ke platform 9. Kami bertiga sudah tidak peduli lagi dengan ransel yang berkilo-kilo beratnya atau pandangan orang-orang yang melihat tiga perempuan lari macam kesetanan, kami terus lari bahkan saat naik eskalator. Di sini saya sempat terpisah dari Galuh dan Puti. Saat saya tiba di platform 9, saya melihat ke belakang dan tidak ada Galuh ataupun Puti di belakang saya. Saya kembali panik, jangan-jangan saya yang salah platform. Saya kembai mengecek papan informasi dan mendapati saya sudah berada di platform yang benar. Untungnya kereta kami sedikit terlambat jadi kemungkinan besar tidak akan berangkat tepat pukul 9.15. Saya baru berniat menyusul Puti dan Galuh saat mereka terlihat turun di tangga. Ternyata mereka lari keterusan dan turun di platform sebelah, mungkin karena teralu bersemangat hehe. Kereta akhirnya datang, dan kami pun naik masih dengan napas ngos-ngosan. Lucunya, sebelum naik, si driver blablacar baru merespon dengan tawaran menggiurkan: dia punya teman yang bisa menjemput kami Leeds dan mengantarkan langsung ke Stansted. Basi! Kenapa baru jawab sekarang setelah kami sudah beli tiket bus dan kereta seharga biaya hidup kami seminggu? Huft! Basi-basi gitu nyatanya sempat bikin kami galau juga, tapi setelah menimbang dari segi keamanan dan kepastian, kami memutuskan menolak tawaran tersebut.  Toh kami tinggal naik kereta. Amanlah, pikir saya. Kami lalu mencari tempat duduk dan memutuskan untuk tidur demi menghemat tenaga untuk berjalan kaki nantinya dari Birmingham Central Station ke bus station. Sayangnya, niat kami untuk tidur hanyalah impian semata karena keadaan kereta yang chaotic. 

Apakah yang membuat kami tidak bisa tidur? Dan yang terutama, akankah kami tiba di Stansted tepat waktu dan mimpi kami untuk bersantai di tepi pantai Malaga akan terwujud? Sabar ya! Akan saya jawab di part selajutnya! hehehe.

Ciao for now!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s